Sekolah dan Beasiswa: Sebuah Perjalanan (01)

Akhirnya ada waktu juga bagi saya untuk menulis tentang perjuangan saya dalam mencari sekolah dan beasiswa S2 yang dimulai sejak tahun 2013 dan tertunda hingga 2018. Tulisan ini akan sedikit panjang dan mungkin membosankan, karena saya sekaligus ingin mencurahkan isi hati yang telah terpendam selama ini (err…).

Gagasan untuk kuliah di jenjang magister atau S2 sebetulnya sudah muncul di kepala saya ketika masih kuliah S1 di jurusan ilmu hubungan internasional UGM. Namun demikian saya masih gamang apakah mengambil S2 langsung setelah kuliah atau bekerja dulu setelah lulus nanti.

Terlepas dari kegamangan tersebut, terbersit dalam pikiran saya untuk mencoba mendaftar kuliah program magister di universitas di luar negeri. Keputusan untuk memilih S2 di luar negeri bukan  didasarkan pada faktor gengsi dan ingin-jalan-jalan-di-luar-negeri. Namun karena faktor kualitas dan pengalaman hidup yang berharga.

Saya sudah kuliah di jurusan HI terbaik se-Indonesia (dan tertua, tentunya). Tentunya saya ingin mencoba naik kelas dengan bersekolah di tingkatan yang lebih tinggi dengan harapan saya mampu meningkatkan pengetahuan, kualitas diri, dan jejaring.

Selain itu saya juga sudah pernah berkuliah singkat dalam kerangka program pertukaran pelajar di National University of Singapore (NUS) yang notabene universitas terbaik se-Asia. Pengalaman hidup singkat di Singapura tersebut sangat membekas (traumatis) di benak dan pemikiran saya.

Pada bulan Agustus 2012, setelah wisuda selesai, saya langsung menjalankan strategi perjalanan hidup dengan mencoba melamar kerja dan melamar beasiswa sekolah. Saya masih gamang memutuskan yang mana, akhirnya ya sudah, dicoba saja keduanya. Mana yang diterima terlebih dahulu, ya itu jalan yang diberikan Allah kepada saya. Berupaya keras di beberapa pilihan dan menyerahkan hasilnya kepada yang kuasa tersebut akhirnya menjadi filosofi hidup saya ke depannya.

Kemudian saya pun melamar kerja di berbagai perusahaan dan institusi di Indonesia serta melamar beasiswa “Master of Strategic Project Management” (MSPME) dalam skema Eramus Mundus, di mana selama 3 semester akan belajar di Edinburgh, Inggris, dan Umea, Swedia.

Saya ingin belajar bidang ilmu project management, yang nota bene berada di luar jalur ilmu hubungan internasional, dengan alasan untuk memperkaya wawasan dan ingin berkarir di bidang management. Alasan jujur saya adalah saya agak jenuh dalam berkecimpung di dunia HI dan ingin mencoba karir di bidang lain. Ini merupakan guncangan minat yang pertama saya alami.

Kendala utama dalam beasiswa tersebut adalah minimal nilai IELTS yang cukup tinggi. Sementara persiapan saya, hanya les privat IELTS selama 2 minggu. Alhasil nilanya ya pas-pasan, hanya memenuhi minimal syarat sahaja. Saya juga rajin mengejar dosen-dosen di jurusan HI sebagai pemberi rekomendasi aplikasi saya.

Namun apa daya, ternyata upaya saya tersebut nampaknya kurang optimal dan impian untuk belajar project management di Eropa tersebu belum diridhai Allah SWT. Saya tidak lolos seleksi beasiswa Erasmus Mundus, walaupun saya ternyata diterima oleh kampus program MSPME tersebut, namun harus mencari sendiri pendanaan program tersebut. Ketika itu mencari pendanaan kuliah tidak semudah sekarang di mana terdapat beasiswa yang siap mendanai peserta yang lolos seleksi ke berbagai kampus. Alhasil saya pun mengurungkan niat untuk mencari pendanaan dan bersekolah di jenjang magister. Akan tetapi, saya percaya bahwa suatu saat saya akan sekolah lagi, entah kapan. Btw, cerita saya tidak diterima beasiswa MSPME dapat dibaca di tautan ini.

Selesai melamar beasiswa, ternyata saya justru diterima bekerja di MarkPlus, Inc, sebuah perusahaan konsultan marketing di Jakarta, yang. Nampaknya memang ini jalan yang ditunjukkan Allah SWT kepada saya. Perjalanan hidup mengantarkan saya menjadi pegawai kantoran di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, tepatnya menjadi peneliti kualitatif untuk melaksanakan riset di MarkPlus Insight, unit riset di MarkPlus, Inc.

Btw, ketika bekerja di MarkPlus, saya mengalami guncangan minat lagi. Walaupun saya lolos probation di MarkPlus dan mulai dipercaya mengerjakan proyek riset sendiri (walaupun proyek kecil yah :P), namun saya merasa hati dan pikiran saya tidak sejalan dengan bidang kerja konsultan riset marketing. Saya kangen dengan bidang HI, diplomasi, dan kerjasama internasional. Akhirnya, saya pun melamar kerja ke ASEAN Secretariat dan alhamdulilah diterima bekerja di sana, yang sangat sesuai dengan minat saya di bidang HI. Oh iya, pengalaman saya melamar kerja di ASEAN Secretariat dapat dibaca di tautan ini ya.

Namun demikain, keinginan untuk bersekolah lagi tidaklah surut. Di tengah kesibukan bekerja (dari MarkPlus dan ASEAN Secretariat), saya masih sesekali coba berupaya untuk sekolah lagi. Mari kita lanjutkan perjalanan di postingan berikutnya ya.

Bersambung….

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s